Monthly Archives: March 2014

Kuliner Colenak Bandung

Kota Bandung memang memanjakan lidah para pecinta kuliner dengan beraneka ragam jajanan lezat dan unik.  Salah satunya adalah Colenak, makanan ringan tradisional yang terdiri dari potongan tape singkong panggang dengan saus enten, yaitu campuran kelapa parut dan gula merah. Sebutan “colenak” untuk jajanan ringan ini merupakan akronim dari kata “dicocol enak”. Ya, colenak memang dinikmati dengan cara mencocolkan potongan tape singkong panggang pada sausnya.

Paduan rasa tape singkong dan manis-gurihnya adonan enten menghadirkan sensasi rasa legit yang menggigit. Makanan ini cocok disantap kapan pun juga. Akan lebih pas jika dinikmati bersama segelas teh pahit hangat. Konon katanya kuliner Bandung yang satu ini sudah ada sejak jaman pemerintahan Belanda dulu. Colenak berbahan dasar peuyeum atau tape/singkong yang di bakar lalu diberi topping yang terbuat dari parutan kelapa dan saus yang terbuat dari gula merah yang telah di cairkan.

colenak bandung

Colenak terbuat dari bahan-bahan yang mudah didapat di kota Bandung, yaitu tape singkong, kelapa parut, dan gula merah. Tape singkong dipanggang di atas bara, kemudian saus enten dibuat dengan cara mencampur kelapa parut dan gula merah yang dimasak hingga gula meleleh dan adonan tercampur dengan baik. Lezat-tidaknya colenak tergantung pada kualitas bahan yang digunakan dan cara memasaknya.

Semakin berkembangnya zaman membuat colenak memiliki beberapa varian topping dan sausnya seperti saus gula merah yang dicampur dengan nangka yang memberikan sensasi rasa yang lebih unik dan bahkan untuk anda yang menggemari buah durian bisa memilih colenak dengan menggunakan saus durian. Rasanya yang legit, manis dan gurih akan memanjakan lidah bagi wisatawan yang datang ke kota Bandung. eberapa kedai atau cafe yang menyajikan menu colenak sekarang sudah mudah ditemukan. Semoga kuliner Bandung yang satu ini tidak pernah hilang termakan oleh zaman, semoga masyarakat Bandung masih tetap dapat melestarikan kuliner colenak Bandung ini.

Kesenian Badawang Bandung

Kesenian badawang merupakan sesuatu yang berhubungan dengan kepercayaan Agama asli Indonesia yang didalamnya terdapat lambing seni , bentuk seni , isi seni,pengalaman seni mereka yang pada dasarnya terkandung makna bersifat mistis itu dapat dilihat dari bentuk dan gambaran dari badawang yang merupakan gambaran tradisis totemistik masyarakat agama asli Indonesia walaupun dalam perkembangannya mengalami perubahan dalam bentuk yang lebih lucu / kocak.

badawang

Di tatar Sunda keberadaan Badawang / memeniran karena dilihat dari bentuk yang besar dan tinggi dilambangkan dengan manusia yang tubuhnya besar dan tinggi (identik dengan orang Barat yang dalam hal ini orang Belanda) diambil dari kata meneer (tuan dalam bahasa Belanda). Hampir sama dengan ondel ondel yang di Jakarta di Kabupaten Bandung masih ditampilakan  pada perayaan khitanan, perayaan hari besar seperti 17 Agustus , untuk menyambut pejabat dll.

Di Kabupaten Bandung khususnya badawang diambil dari profil dari para pewayangan seperti Semar, cepot, dawala, gareng ditambah tokoh- tokoh bangsawan jaman dahulutokoh asing dan tokoh para pejuang tempo dulu. Musik pengiring untuk badawang biasanya mempergunakan jenis musik yang mudah dibawa seperti kesdang, goong, bedug, terompet, dog-dog. seperti daerah Cileunyi alat musik pengiringnya mengambil dari iringan penca silat yaitu padungdung, golempang, jenis lagunya terkadang mengambil lagu- lagu kliningan , dangdut. Di daerah Rancaekek badawang biasanya ditampilkan dengan Benjang yang dilengkapi oleh heleran ( kesenian yang dipakai untuk arak arakan ) kostum pemusik ada yang memperguanakan kostum penca silat dll.

Alat Musik Angklung

Angklung menurut mitologi Bali berasal dari kata  “Angk” adalah angka  (=  nada) dan Lung artinya patah/ hilang . Angklung dapat juga dikatakan nada / laras yang tidak lengkap  sesuai dengan istilah Cumang Kirang (Bahasa Bali) yang artinya nada kurang / surupan 4 nada. Terciptanya alat musik angklung yang terbuat dari bambu berasal dari pandangan kehidupan masyarakat Sunda yang agraris dengan kehidupan yang bersumber pada makanan pokok berupa padi (pare) ini dilahirkan dari mitos pada Nyi Sri  Pohaci sebagai Dewi Sri pemberi kehidupan (hirup hurip) perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengelola Pertanian (tetaten) terutama pertanian sawah dan ladang (huma) telah melahirkan syair lagu sebagai penghormatan dan persembahan kepada Nyi Sri Pohaci dan sebagai tolak bala agar bercocok tanam mereka tidak mendatangkan malapetaka.

angklung musik

Dalam perkembangannya lagu-lagu tersebut di iringi dengan bunyi tetabuhan yang terbuat dari batang-batang bambu yang dibuat sederhana  yang kemudian kita kenal dengan nama angklung dan calung. Dibeberapa Kecamatan Kab Bandung seperti Kecamatan Soreang dan Kecamatan Pangalengan jenis kesenian ini dipergunakan untuk arak-arakan upacara adat Nyungkruk Hulu Wotan  ( menyelusuri hulu sungai ) dimana masyarakat membawa angklung dan dog-dog pergi ke hulu sungai membawa makanan seperti nasi tumpeng, lauk pauk serta membawa sesajen untuk upacara tersebut . Setelah sampai ke hulu sungai diadakan upacara lengkap dengan sesajen dan dupa dan berdoa kepada nenek moyangnya sambil menyembelih kambing hitam sebagai tumbal dan kepala kambing dikubur bersama sesajen dengan dipimpin oleh sesepuh kampung setelah makan bersama maka pulang sambil membunyikan angklung. Berikut ini adalah angklung yang ada di Kabupaten Bandung yaitu :

  1. Singgul
  2. Jongjorang
  3. Ambrug
  4. Ambrug Penerus
  5. Pancer
  6. Pancer Penerus
  7. Engklong
  8. Roel

Sedangkan jenis angklung yang ada di Jawa Barat  adalah sebagai berikut :

  1. Angklung Baduy
  2. Angklung Dogdog Lojor
  3. Angklung Gubrag
  4. Angklung Badeng
  5. Angklung Buncis
  6. Angklung Bungko
  7. Angklung Soetigna