Monthly Archives: March 2014

Seni Pertunjukan Benjang

Benjang adalah salah satu seni pertunjukan yang berasal dari Kabupaten Bandung yang awalnya sebagai ketangkasan para jawara yang berkembang menjadi seni pertunjukan yang didalamnya terdapat unsur-unsur penunjang dalam pertujukan diantaranya adanya pemain yang tidak terbatas jumlahnya, unsur musik sebagai pengiringnya diantaranya musik terebang, terompet, kendang dan kecrek. adanya pasangan dalam permainan benjang sebagai lawan bertanding dimana wasit sebagai pengatur pertandingan untuk menentukan siapa kalah dan menang yang bergantung pada kekuatan si pemain tersebut lapangan yang diberi batas sebagaimana apabila pemain ke luar garis batas tersebut dinyatakan kalah.

Benjang yang muncul pada tahun 1975 an di daerah Cinunuk menyebar samapi daerah Ujung berung memunculkan grup-grup benjang diantaranya dari kecamatan Cilengkrang grup mekar sari desa Giri Mekar, aneka warna Desa Cikalamiring , gelar putra Desa Jati Endah , mekar budaya Desa Cipareat. Menurut keterangan masyarakat Cinunuk yang pada saat itu masyarakat Cinunuk bermata pencaharian dari sawah dan palawija sering mengadakan syukuran sebagai hiburan menanggap kesenian seperti penca silat, reog, tanji sebagai prakarsa Mas Hasadikarta beliau mengundang para jawara silat untuk menunjukan kebolehannya.

seni benjang

Benjang yang awalnya dilakukan oleh para buruh pabrik di lingkungan Cinunuk bermula dari permainan saling mendorong menggunakan halu (bermula dari permainan dogong yang mempergunakan alat penumbuk padi), yang berkembang menjadi permainan mengadu pundak saling berhadapan dengan lawan. Perkembangan selanjutnya menjadi saling genjang dimana permainannya pemain memegang pinggang kemudian saling membanting bagi yang berhasil membanting lawan dan saling menindih lawannya dinyatakan menang.

Pada tahap selanjutnya pertunjukan benjang dilengkapi dengan kuda lumping, dodombaan, seseroan dimana para pemainnya menjadi kesurupan. Gerak tari dalam benjang diantaranya gerak langkahan, gerak dorongan, gerak piting, gerak gitik. Pertunjukan kesenian tersebut biasanya diadakan pada hari besar seperti 17 Agustus , khitanan, perkawinan dll. Kostum yang dipakai biasanya baju bebas dan ikat kepala pemain musiknya biasanya memakai celana pangsi dan baju kampret.

Kunclung Seni yang Terlupakan

Daerah Kecamatan Cileunyi Kabupaten Bandung ternyata memiliki sejumlah seni tradisional yang sangat unik dan menarik. Salah satunya yakni seni kunclung. Kesenian ini merupakan kesenian khas masyarakat Cileunyi, khususnya masyarakat di Desa Cileunyi Wetan yang merupakan masyarakat huma. Tidak heran jika kesenian ini ditampilkan tatkala menjelang panen padi huma maupun saat akan menanam padi huma.

Beruntung penulis bisa menyaksikan kesenian yang terbilang langka ini beberapa waktu lalu. Walaupun sebenarnya menyaksikan seni kunclung ini serbakebetulan alias tidak disengaja. Pasalnya, saat itu belum saatnya panen maupun menanam padi huma. Kala itu, awal bulan Juni 20012 di Desa Cileunyi Wetan tengah digelar sebuah kariaan yang dilakukan warga, yakni Bah Eke yang kedatangan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jabar, Drs. Nunung Sobari, M.M. yang akan menyaksikan pewarisan seni kacapi janaka yang juga berkembang di daerah itu.

kunclung

Namun penampilan seni kunclung ternyata mampu menarik perhatian penulis dan masyarakat lainnya. Tertlebih saat itu, seni kunclung dimainkan oleh sejumlah anak-anak kecil usia sekolah dasar. Sementara penarinya dua orang perempuan paruh baya dengan mengenakan kain kebaya berwana hijau muda. Kedua penari perempuan ini terus menari mengikuti irama kunclung atau bilah bambu berukuran besar yang dicowak bagian bawah sekitar 10 cm dari buku ke atas. Alat musik ini sangat khas, namun memiliki kesamaan dengan alat musik angklung dan calung. Jika dipukul, maka bambu ini akan mengeluarkan bunyi yang nyaring sesuai dengan ukuran bambu.

Makanya pada saat memainkannya, anak-anak ini tidak memukul secara berbarengan namun berirama sesuai ketukan alat musik kendang dan gamelan yang dimainkan oleh grup seni Lugay Maung (mamaungan atau sisingaan). Tarian yang dibawakankedua penari perempuan tua ini sangat sederhana namun mengandung isi dan nilai sangat dalam serta mengandung nilai magis. Sehingga siapapun yang menyaksikannya tanpa terasa badannya akan ikut bergerak dan bergoyang. Sekalipun yang memainkan kesenian itu terbilang masih anak-anak yang tergabung dalam lingkung seni Rineka Cempaka Mekar Wagi, Kp. Nyalindung, Desa Cileunyi Wetan, namun hasil yang disuguhkan seperti kesenian yang dimainkan kalangan orang dewasa.

Objek Wisata Kawah Kamojang

Ingin menikmati pemandangan alam pegunungan yang alami dengan cuaca berkabut? Tak ada salahnya bila Anda berkunjung ke objek wisata Kawah Kamojang. Objek wisata yang terletak sekitar 40 km dari Bandung dan 25 km dari Garut ini, memang menyimpan panorama alam yang memikat dan terasa sekali kesan perawannya. Sejak zaman penjajahan Belanda, Kawah kamojang dikenal sebagai objek wisata alam liar. Tentunya ada nuansa yang berbeda saat berada di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, di tengah hutan belantara.

Belum lagi, ditambah dengan kekayaan flora dan fauna yang sangat melimpah. Termasuk kekayaan sumber daya alam, yaitu panas bumi, yang dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi terbesar di Asia. Semua itu semakin menambah kekhasan Kamojang sebagai objek wisata alam yang memikat. Luas Taman Wisata Cagar Alam Kamojang sekitar 10 hektare, tetapi saat ini yang digunakan seluas 7,8 ha. Di sini terdapat 23 kawah, dua di antaranya berbentuk danau dengan asap mengepul dari permukaan airnya.

Di sini juga terdapat Kawah Kereta Api yang sebenarnya bekas sumur panas bumi yang digali pada zaman Belanda. Uap yang keluar dari sumur ini dari jarak 200 meter pun masih terdengar nyaring, menunjukkan betapa kuatnya tekanan dari perut bumi. Kawah kereta api inilah yang akan dilalui wisatawan, yang hendak melakukan petualangan ke kawah-kawah lain di Kamojang. Bagi yang tak terbiasa melakukan perjalanan jauh, perjalanan bisa dihentikan di Kawah Hujan. Di sini biasanya para wisatawan menikmati panasnya uap langsung dari perut bumi, bersauna dari sumber alami.

Objek Wisata Kawah Kamojang

Sebelum melewati Kawah Kereta Api, pengunjung dapat menikmati Kawah Manuk. Selain itu ada juga Kawah Beureum, kawah terakhir yang berada di kawasan wisata Kamojang. Selain kawah-kawahnya yang mengagumkan, di sekitar Kamojang juga banyak satwa langka yang bisa dijumpai. Di cagar alam ini, berdasarkan hasil penelitian, masih ada macan tutul, trenggiling, surili, lutung, ayam hutan, monyet, dan beraneka jenis burung. Semua hewan langka tersebut dapat dijumpai kalau memang lagi beruntung.

Selain curug dan kawah, Kamojang juga memiliki danau yang indah dan natural, namanya Danau Ciharus yang terletak di sebelah Kulon Kawah Kamojang. Kawasan Danau Ciharus terletak di tengah hutan yang lebat dan diapit gunung. Selain kawah, air terjun, dan danau, Kamojang juga memiliki hutan pinus yang lebat, cantik serta enak dipandang mata. Dalam perjalanan menuju Kawah Kamojang juga akan ditemukan tanjakan Monteng. Di sini akan ditemukan objek wisata yang cukup menarik, namanya Curug Madi. Meski tidak terlalu tinggi, curug ini sangat indah. Apalagi lokasinya berada di bawah tanjakan Monteng.

Perjalanan ke Kawah Kamojang bisa melalui Garut (Tol Cileunyi, Cicalengka, Garut-Samarang), Tol Cileunyi, Rancaekek, Majalaya, Paseh-Kamojang atau lewat Tol Moh. Toha/Tol Buahbatu, Baleendah, Ciparay, Majalaya, Paseh-Kamojang. Dengan begitu banyaknya pilihan tempat wisata yang ditawarkan Kawah Kamojang, rasa-rasanya amat rugi bila main ke Garut tapi tidak menyempatkan diri mengunjungi objek wisata yang satu ini.