Monthly Archives: February 2014

Taman Wisata Alam Cimanggu

Cimanggu adalah salah satu tempat wisata yang akan kita kunjungi pada hari ke dua dalam paket wisata Bandung yang saya tawarkan kepada Anda. Setelah puas menuju objek wisata kawah putih gunung patuha ciwidey, Bandung, kita akan melanjutkan perjalanan menuju ke Bumi perkemahan Ranca Upas, yang kemudian barulah kita akan sampai di Cimanggu, selanjutnya menuju Situ Patengan / Situ Patenggang dan Kembali ke kota Bandung akan mampir ke pusat kerajinan kulit Cibaduyut.

Dari luar, kawasan tempat wisata alam cimanggu ini akan terlihat masih begitu asri. Dengan pepohonan tropisnya yang menjulang tinggi. Di kawasan wisata ini wisatawan bisa berjalan-jalan santai sambil menikmati sejuknya udara serta keindahan alam yang ada di sekitar obyek wisata. Kawasan wisata ini memiliki dataran yang landai dengan kawasan yang sedikit agak bergelombang.

cimanggu

Ciwidey merupakan sebuah lokasi dimana Air Panas Cimanggu berada. Daerah ini memang sangat kaya sekali dengan sumber mata air panas dari alam dengan kandungan belerang yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan terapi penyembuhan dari berbagai macam jenis penyakit seperti penyakit kulit dan rheumatik. Di tempat ini juga tersedia berbagai macam fasilitas kegiatan berwisata seperti kolam renang untuk anak-anak dan untuk dewasa, kamar-kamar tempat berendam dan area playground untuk tempat bermain anak.

Pesona dari alam yang indah dan juga suasana lingkungan yang menyenangkan serta didukung dengan areal pemandian air panas Cimanggu ini dapat Anda jadikan sebagai salah satu alternatif pilihan berwisata untuk anda yang berkunjung menuju daerah Kabupaten Bandung khususnya ke kawasan Ciwidey-Pangalengan.

Saung Angklung Udjo Bandung

Saung angklung udjo bandung Merupakan sebuah tempat pertunjukan, dan pusat kerajinan tangan yang terbuat dari bambu, serta workshop instrumen musik yang berasal dari bambu. Selain itu, SAU memiliki tujuan sebagai sebuah laboratorium pendidikan dan menjadi pusat belajar untuk memelihara kebudayaan khas Sunda, khususnya angklung.

Tempat ini didirikan oleh Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati pada tahun 1966, dengan maksud dan tujuan untuk melestarikan serta memelihara seni dan kebudayaan tradisional khas Sunda. Tempat ini Berlokasi di Jalan Padasuka 118, Bandung Timur, Jawa Barat, Pulau Jawa, Indonesia. Suasana yang ada di tempat ini memiliki udara yang segar dan dikelilingi oleh banyak pohon-pohon bambu, kerajinan yang terbuat dari bambu dan interior bambu sampai dengan alat musik yang terbuat dari bambu.

saung

Pertunjukan rutin Saung Angklung Udjo diadakan setiap sore, dan Saung Angklung Udjo ini telah berkali-kali mengadakan sebuah pertunjukan khusus yang dilaksanakan pada pagi ataupun siang hari. Pertunjukkan tersebut tidak sebatas di lokasi Saung Angklung Udjo saja, namun juga di berbagai undangan dan tampil di berbagai macam tempat baik iatu di dalam ataupun di luar negeri, pada tahun 2000 tepatnya di bulan Agustus pada Sasana Budaya Ganesha ITB, Bandung.

Saung Angklung Udjo pernah mengadakan sebuah konser kolaborasi dengan seorang penyanyi cilik yang biasa dijuluki Shirley Temple-nya Indonesia, yaitu Sherina yang sekarang sudah beranjak dewasa. Saung Angklung Udjo tidak hanya mempertunjukan seni kebudayaan saja, melainkan berbagai jenis produk alat musik yang terbuat bambu tradisional (angklung, arumba, calung dan lain sebagainya) dijual kepada para pembeli yang berminat dengan alat musik bambu tersebut.

Floating Market Lembang Wisata Baru Di Bandung

Inilah tempat wisata di Bandung yang terbaru, areal wisata ini baru saja di buka. Di tempat ini Anda akan menemukan banyak sekali hal menarik dan unik yang berbeda dari tempat lain. Sebuah hal baru yang menarik pasti akan membuat Anda senang dan penasaran ingin mengunjunginya. Cobalah untuk datang berkunjung jika Anda sedang berwisata ke kota Bandung, pasti Anda akan menyukainya. Kota Bandung memang tidak memiliki sungai yang besar seperti halnya di pulau Sumatera ataupun Kalimantan. Akan tetapi Anda masih dapat merasakan suasana wisata belanja dan kuliner yang berada diatas air di kota Bandung. Seperti di Thailand juga terdapat pasar Terapung, namun Anda tidak perlu jauh-jauh menuju Thailand untuk menikmatinya, karena sekarang di kota Bandung sudah ada. Lebih tepatnya adalah Floating Market Lembang, yang terdapat di kawasan Bandung Barat, Jalan Grand Hotel No. 33 E, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Kota Bandung memang sangat tepat sekali jika menyandang julukan sebagai kota wisata. Berbagai macam jenis tempat wisata dapat Anda temukan di Bandung yang juga merupakan ibukota propinsi Jawa Barat ini. Terinspirasi dari dua pasar terapung seperti di pasar terapung Muara Kuin yang berada di Kalimatan, dan juga pasar terapung Damnoen Saduak yang terdapat di Ratchaburi, Thailand. Floating Market Lembang ini didirikan diatas sebuah danau alami yang bernama Situ Umar. Tempat wisata ini telah dibuka sejak 12 Desember 2012. Di sini Anda dapat menemukan beraneka ragam jajanan kuliner yang dijual di 46 perahu yang terapung di atas danau yang ukurannya cukup besar. Contohnya seperti tempe mendoan, colenak, ketan bakar, jagung bakar, duren bakar, dan masih banyak lagi.

floating market lembang

Perahu-perahu yang menjual bermacam hidangan kuliner disini akan sedikit berbeda jika Anda bandingkan dengan pasar terapung lainnya seperti yang terdapat di Muara Kuin, Kalimantan. Perahu-perahu pedagang yang terdapat disini sudah diparkir serapi mungkin sehingga para pengunjunglah yang akan hilir mudik untuk menghampiri perahu ini. Di sekeliling danau juga terdapat beberapa joglo dan gazebo kecil untuk tempat beristirahat sambil menikmati indahnya pemandangan sekitar. Salah satu sudutnya adalah terdapat Kampung Leuit yang mempunyai leuit-leuit tempat beristirahat yang ditemani bersama miniatur sawah yang akan membuat para pengunjung seolah-olah sedang berada di area sawah sesungguhnya.

Selain Anda dapat menikmati berbagai macam jajanan kuliner yang dijual diatas perahu, jika Anda sedang berada di Floating Market Lembang ini bisa berkeliling di danau dengan menyewa sebuah perahu kano, paddle boat, sepeda air, dan sampan. Di Floating Market Lembang ini juga terdapat berbagai permainan adventure, seperti Flying Fox dan juga ATV. Disamping itu, pengunjung dengan kategori anak-anak juga bisa merasakan pengalaman untuk memberi makan kelinci dan bebek. Disini juga terdapat kebun strawberry dan sayuran organik yang bisa dipetik oleh para pengunjung. Jarak beberapa meter disamping pasar terapung, dapat Anda temukan juga beberapa restoran serta factory outlet.

Untuk dapat masuk ke dalam Floating Market Lembang ini, pengunjung akan dikenakan tarif sebesar Rp 10.000 tiap orangnya. Biaya ini sudah termasuk dengan welcome drink. Untuk Anda yang ingin berkeliling danau dengan menggunakan wahana air, harganya berkisar antara Rp 30.000 – Rp 70.000. Harga makanan yang dijual di perahu terapung ini juga sangat beragam sekali, mulai dari harga Rp 10.000 Anda sudah bisa menikmati sajian kuliner tradisional. Dan uniknya lagi, segala macam bentuk transaksi di Floating Market Lembang ini hanya dapat dilakukan dengan menggunakan sebuah koin khusus yang dapat ditukarkan di tempat yang sudah disediakan.

Penangkaran Rusa Ranca Upas Di Ciwidey

Penangkaran rusa ranca upas di ciwidey merupakan Salah satu tempat wisata yang dapat Anda kunjungi ketika liburan ke kawasan Ciwidey, Bandung. Berjarak sekitar 170 km dari pusat kota Bandung dan memiliki keindahan nuansa alam yang mempesona. Lokasinya berada di kawasan wisata bumi perkemahan Ranca Upas, Bandung Selatan.

Jalan menuju objek wisata ini terbilang baik karena sudah aspal, letaknya tidak jauh dari perkebunan teh Rancabali yang berada di kaki Gunung Patuha, Kawah Putih, Ciwidey, Bandung Selatan, Jawa Barat, Pulau Jawa, Indonesia. Disini Anda dapat melihat rusa secara lebih dekat dan secara langsung, bahkan Anda juga memiliki kesempatan untuk memberi makan Rusa-rusa tersebut yang jumlahnya sekitar 16 ekor.

ranca upas

Bumi Perkemahan Ranca Upas bisa Anda tempuh dengan menggunakan mobil dan memakan waktu kurang lebih selama 2 jam jika dari kota Bandung. Sejak tahun 1980 an, salah satu tempat wisata di Bandung ini sudah menjadi sebuah tempat rekreasi dan perkemahan. Salah satu keunikan rusa yang ada disini, begitu mendengar tanda dari pawang, rusa-rusa tersebut akan datang dan keluar dari tempat persembunyian, selain memakan rumput dan meminum air, rusa juga menyukai makanan umbi-umbian, seperti halnya ubi dan singkong. Waktu makan rusa-rusa di Ranca Upas ini adalah setiap pukul 2 siang.

Kalau bukan waktunya makan, rusa-rusa disini tidak akan keluar, mereka bersembunyi di bawah rimbunnya semak semak. Rusa jantan memiliki tanduk panjang dan juga lebih sering menampakan diri. Sedangkan untuk rusa betina, tidak mempunyai tanduk dan lebih sering bersembunyi bersama dengan anak-anaknya. Rusa yang ada disini jinak kepada para pengunjung. Karena itu, pengunjung yang datang kesini dapat leluasa untuk memberikan mereka makan. Setiap tahunnya rusa yang ada di kawasan ini akan bertambah satu ekor.

Sejarah Asal Usul Kata Bandung

Menurut catatan sejarah kata “Bandung” berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang kemudian membentuk telaga. Namun, menurut mitos masyarakat setempat nama “Bandung” diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati Bandung. Kota Bandung merupakan kota metropolitan terbesar di Jawa Barat dan sekaligus menjadi ibu kota provinsi tersebut. Selain itu, kota bandung juga merupakan kota terbesar ketiga di indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Nama lain dari kota Bandung adalah Kota Kembang, dan dahulu juga bandung dikenal dengan Parijs Van Java.

Selain itu kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet yang banyak tersebar di kota ini. Dan pada tahun 2007, British Council menjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Saat ini kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan. Berikut ini duniabaca.com kutip dari Wikipedia mengenai asal-usul sejarah kota bandung.

bandung city

Kata “Bandung” berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Legenda yang diceritakan oleh orang-orang tua di Bandung mengatakan bahwa nama “Bandung” diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Ci Tarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.

Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderalnya waktu itu Herman Willem Daendels, mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan ini. Dikemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung.

Kota Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz pada tanggal 1 April 1906 dengan luas wilayah waktu itu sekitar 900 ha, dan bertambah menjadi 8.000 ha di tahun 1949, sampai terakhir bertambah menjadi luas wilayah saat ini.

Pada masa perang kemerdekaan, pada 24 Maret 1946, sebagian kota ini di bakar oleh para pejuang kemerdekaan sebagai bagian dalam strategi perang waktu itu. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Selain itu kota ini kemudian ditinggalkan oleh sebagian penduduknya yang mengungsi ke daerah lain.

Pada tanggal 18 April 1955 di Gedung Merdeka yang dahulu bernama “Concordia” (Jl. Asia Afrika, sekarang), berseberangan dengan Hotel Savoy Homann, diadakan untuk pertama kalinya Konferensi Asia-Afrika yang kemudian kembali KTT Asia-Afrika 2005 diadakan di kota ini pada 19 April-24 April 2005.