Monthly Archives: January 2014

5 Resto Paling Sunda Di Bandung

Makanan sunda yang enak tentu saja langsung dibeli di tempatnya, Bandung. Mau tau lima resto masakan sunda paling menggiurkan di Bandung? Langsung kita simak saja rekomendasi di bawah ini.

Ampera
Siapa yang tidak pernah dengar warung Ampera bagi yang sering singgah ke Bandung. Berawal dari sebuah warung nasi kecil di Jl. Soekarno Hatta Bandung, Warung Ampera memulai bisnisnya secara kecil-kecil. Awalnya para pelanggan yang makan di Watung Nasi Ampera adalah para supir-supir truk dan orang-orang disekitar Jl. Soekarno Hatta. Beranjak maju, Warung Nasi Ampera mulai melebarkan sayap dengan membuka beberapa kedai di Jawa Barat khususnya Bandung, Jakarta dan Jogjakarta. Soal rasa makanan sudah tidak diragukan lagi. Untuk masakan Sunda, yang paling memegang peranan penting adalah dari segi sambalnya. Nah kalau Warung Nasi Ampera, rasa sambalnya sudah tidak diragukan lagi. Juara!

Ma Uneh
Meskipun restoran ini bisa dibilang masih tradisional, Ma uneh memiliki kelezatan yang dapat diadu dengan restoran modern lain. Rasanya yang boleh dibilang sebagai pioneernya masakan sunda ini tidak pernah sepi pengunjung. Bahkan restoran ini juga membuka gerobak kaki lima pada waktu malam dan diletakkan jalan besar agar memudahkan para pengunjung. Menunya sendiri sama seperti restoran sunda lainnya dengan jenis makanan beragam. Kita dapat memilih makanan yang disediakan di etalase, lalu makanan tersebut dipanaskan agar dapat dinikmati kelezatannya. Saat ini, warung Ma Uneh ada di Jl. Padjajaran dan  sudah membuka cabang di Setiabudi dengan tempat yang lebih modern.

Nasi Bancakan

nasi bancakan
Makan di nasi Bancakan membuat kita merasa kembali ke masa lampau. Piring-piring dengan menggunakan seng putih, tempat makanan dengan baskom dari seng, serta gelas dari kaleng digunakan di restoran ini. Makanan sunda dari jaman baheula seperti ceos kacang merah, gejos cabe hejo, hampas kecap juga turut mewarnai. Dekorasi dan arsitektur dibuat sedemikian rupa sehingga kita merasa bukan di jaman sekarang. Harganya pun sangatlah murah. Makanan dihidangkan dari Rp. 500,- sampai Rp. 7000,-. Setelah puas memakan makanan utama, kita dapat memesan kue balok, yaitu kue pukis yang dimasak dengan arang (bagian atas dan bawah). Sesuai dengan namanya, Bancakan, yang dalam bahasa sunda artinya berkumpul, tempat ini menjadi tempat berkumpul favorit, tak heran dalam sehari kira-kira seribu pengunjung datang. Nasi bancakan terletak di Jl. Trunojoyo no 62.

Sindang Reret
Sindang Reret adalah grup hotel dan restoran yang terletak di Bandung dan Lembang. Di Lembang (Sindang Reret Cikole) dan Bandung Selatan (Sindang Reret Ciwidey), restoran ini juga dilengkapi hotel serta saung untuk bersantai dan menikmati panorama Jawa Barat. Sementara di Bandung (Sindang Reret Surapati), tersedia restoran dan tempat meeting. Makanan di Sindang Reret sama seperti makanan Sunda pada umumnya. Dihidangkan dengan panas, makanan ini menggugah selera. Terdapat hidangan pembuka, sup, ikan, ayam, tumis, minuman tradisional serta minuman khas restoran ini.  Minuman khas Sindang Reret seperti Layung Katineung, Putri Geulis dan Kawah Putih jangan sampai dilewatkan.

Sambara
Berkonsep arsitektur modern dengan dengan sentuhan tradisional Sunda, Sambara turut menyemarakkan makanan sunda terkenal di Bandung. Tidak hanya itu, pelayanan yang ramah ala Sunda dan sajian budaya Sunda juga ikut ambil bagian. Anda dapat mendengar alunan kecapi suling ataupun tarian jaipong anak-anak setiap minggu. Dekorasi seperti topeng Cirebon dan payung Tasik turut melestarikan budaya Sunda. Menu yang ditawarkan bervariasi dari makanan Sunda modern hingga makanan Sunda jaman dulu. Restoran yang terletak di Jl. Trunojoyo no. 64 juga menghadirkan wifi untuk kenyamanan para konsumen.

5 Tempat Wisata Paling Ok Di Bandung

Bandung merupakan salah satu tempat tujuan wisata menarik di Indonesia. Berikut ini adalah 5 tempat wisata paling ok di Bandung.

Gunung Tangkuban Perahu

Terletak 30 km di sebelah utara kota Bandung, kita dapat menjangkau gunung yang indah ini dalam waktu 30 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Di sepanjang perjalanan, anda dapat melihat kebun teh dan deretan pohon pinus sambil menikmati udara sejuk. Terdapat mata air panas yang bisa ditemukan di kaki gunung serta deretan kawah memanjang dari gunung berapi ini. Gunung ini dinamai Tangkuban Perahu karena bentuknya yang seperti perahu terbalik. Pada saat cuaca cerah, lekukan tanah pada dinding kawah gunung ini terlihat jelas, begitu pula dengan dasar kawahnya. Pemandangan yang betul-betul menakjubkan.

Sari Ater

ciater

Sari Ater atau yang lebih akrab disapa Ciater, merupakan tempat wisata pemandian air panas yang terletak 32 km di Utara pusat kota Bandung. Terletak di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut, Ciater berada di belakang gunung Tangkuban Perahu. Di sepanjang jalan menuju ciater, anda dapat melihat perkebunan teh dan hutan pinus yang luas. Ciater berdiri di atas lahan sebesar 40 Ha. Selain digunakan sebagai tempat rekreasi, Air panas dari Ciater juga digunakan sebagai terapi penyakit, terutama penyakit kulit. Fasilitas yang terdapat di Ciater beraneka ragam, yaitu bungalow, kolam renang air panas, restoran, hiking, outbound dan lain sebagainya.

Maribaya

Maribaya merupakan tempat wisata pemandian air panas sekaligus air terjun. Terletak sekitar 21 km dari utara Bandung, atau 5 km dari timur Lembang, air panas yang terletak di Maribaya terkenal berkhasiat menyembuhkan. Sementara air terjunnya yang berjumlah 5 buah, sangat digemari oleh para pengunjung. Terdapat banyak kera di objek wisata ini yang dapat kita beri makan. Di Maribaya, juga terdapat taman, di mana dari taman tersebut para pengunjung dapat melakukan trekking sepanjang 6 km melalui lembah sungai menuju ke Bukit Dago, Bandung. Pemandangan sunset yang indah dapat anda temukan di sana.

Kawah Putih

Kawah Putih adalah sebuah danau kawah dari Gunung Patuha dengan ketinggian 2.434 meter di atas permukaan laut. Suhu di sana sebesar 8-22 derajat celcius. Di puncak Gunung Patuha terdapat Kawah Saat di bagian barat. Kedua kawah itu terbentuk akibat letusan yang terjadi pada sekitar abad X dan XII. Kawah Putih terletak di Ciwidey yaitu 46 km di selatan kota Bandung. Dari pintu gerbang kawah putih hingga tempat wisatanya, berjarak 5 km. Anda dapat melaluinya di jalan beraspal yang berkelok-kelok dan dikelilingi pemandangan hutan dengan aneka spesies tanaman. Dalam perjalanan menuju kawah, terdapat pula obyek menarik seperti rel kereta tua, sawah, kebun teh dan juga pohon pinus.

Kampung Gajah

Kampung Gajah yang terletak di Bandung Barat menawarkan hiburan outdoor menarik, belanja dan kuliner dalam satu tempat. Bagi penggemar outdoor activity, anda dapat mencoba touring ATV, fun bike, horse riding dan sebagainya. Terdapat pula mini atv, mini flying fox, trampoline dan berbagai permainan lainnya untuk anak-anak. Untuk hiburan air, tersedia bumper boat ataupun bebek-bebekan untuk anak-anak. Sementara bagi anda pecinta kuliner, anda dapat menjajal menu-menu khas Kampung Gajah. Kampung Gajah cocok bagi keluarga yang ingin berrekreasi dan melepas penat setelah kesibukan di hari biasa. Anda dapat menikmati pula pemandangan alam kota Bandung yang indah di sana. Kampung Gajah terletak di Jl. Sersan Bajuri KM 3,8.

batagor

Makanan Khas Bandung

Bandung adalah ibukota dari provinsi Jawa Barat yang terkenal dengan keunikan fashion, kuliner, dan lifestyle-nya. Setiap tahun, Kota Bandung selalu didatangi wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Bandung juga termasuk kota kuliner, adapun makanan khas bandung adalah sebagai berikut.
Batagor
Baso tahu goreng atau yang lebih akrab disapa batagor merupakan makanan khas yang berasal dari Bandung. Batagor merupakan percampuran antara siomay dan tahu yang digoreng lalu disajikan dengan bumbu kacang. Selain batagor goreng, juga terdapat batagor kuah yang dihidangkan dengan menggunakan kuah yang dibuat dari air kaldu dan penyedap rasa. Batagor yang terkenal di Bandung adalah Batagor Riri yang terletak di Jl. Burangrang no. 41. Selain Batagor Riri, juga terdapat Batagor Kingsley di Jl. Veteran no. 25 dan Batagor Elizabeth di Jl. Inhofftank no. 64.

Baso Tahu
Selain batagor, untuk makanan khas Bandung juga terdapat Baso Tahu. Baso Tahu adalah perpaduan antara baso yang dilapisi dengan tahu. Seperti batagor, baso tahu dapat disajikan dalam bentuk goreng yang dilumuri dengan saus kacang ataupun kuah yang dihidangkan dengan menggunakan kuah. Baso tahu dapat ditemukan di restoran-restoran di Bandung.

Serabi
Serabi Bandung merupakan salah satu yang terkenal di antara berbagai varian serabi di nusantara. Serabi merupakan jajanan khas yang bentuknya menyerupai pancake. Serabi Bandung terbuat dari tepung terigu, telur, air kelapa yang diaduk lalu dipanggang di cetakan kue serabi. Serabi ini biasanya dimakan dengan kuah kinca yang terbuat dari gula merah. Serabi Bandung dapat anda jumpai di gerobak maupun restoran di setiap penjuru kota Bandung.

Surabi Bandung

Surabi Bandung

Pisang Molen
Pisang molen cukup dikenal di kalangan para pengunjung kota Bandung. Pisang molen terbuat dari pisang yang diberi gula, susu dan keju lalu dilapisi dengan kulit puff pastry. Pisang molen memiliki berbagai varian rasa seperti coklat dan keju. Anda dapat membeli Pisang Molen di Kartika Sari, Primarasa ataupun toko oleh-oleh terkenal yang lain.

Perkedel Bondon
Perkedel Bondon sangatlah nikmat dan terkenal seantero Bandung. Bondon berarti wanita malam dalam bahasa Sunda. Tapi jangan berpikiran negatif dulu, makanan ini disebut perkedel bondon karena jam terbangnya malam hari. Berdiri sejak tahun 1992, perkedel ini dibuat dalam jangka waktu yang lama, yaitu 4 jam. Perkedel kentang yang garing ini sangat nikmat sehingga cukup dinikmati dengan nasi putih dan sambal saja. Perkedel yang dimasak dengan tungku api di atas kayu bakar ini dihargai sebesar Rp. 800,-. Perkedel Bondon hadir di Stasiun Hall, Kebonjati, Bandung.

bangunan tua bandung

Sejarah Bangunan Tua Di Bandung

Sejarah sebuah kota tidak hanya bisa ditelusuri dari perjuangan masyarakatnya. Selain melalui kondisi geologi, masih banyak saksi bisu lainnya yang bisa menceritakan perjalanan masa lalu sebuah kota, terutama ketika kota tersebut memasuki masa jaya. Kota Bandung sebenarnya termasuk salah satu kota di Indonesia yang paling beruntung karena masih memiliki salah satu saksi sejarah masa lalunya yang bisa dibaca lewat bangunan-bangunan tua dengan berbagai langgam arsitekturnya. Melalui salah satu kekayaan itu, setiap orang bisa menelusuri perjalanan sejarah kota dan masyarakat Bandung, tergantung dari kepentingannya.
Dari segi arsitektur, Bandung pernah dijuluki sebagai laboratorium arsitektur paling lengkap karena memiliki begitu banyak kekayaan arsitektur yang hingga kini menjadi sumber inspirasi dan bahan penelitian yang tak habis-habisnya untuk digali. Berbagai bangunan tua di bandung bukan hanya mampu menceritakan bagaimana awal kota ini dibangun. Tetapi, dari sudut pandang lain-terutama dalam hubungan dengan peringatan 400 tahun VOC-bisa diketahui bagaimana kuku-kuku penjajah mulai mencengkeram daerah yang selama ini dijuluki Bumi Parahyangan untuk mengeksploitir sumber daya alam dan manusianya.

Dataran Tinggi Priangan dijadikan salah satu wilayah perkebunan sejak tahun 1870 dengan pusat dan sekaligus tempat tinggal mereka di Kota Bandung. Cikal bakal pembukaan areal perkebunan tersebut masih bisa disaksikan lewat bangunan tua yang kini dijadikan pusat pemerintahan Kota Bandung. Gedung tersebut dibangun tahun 1819 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Der Cappelen atas usul Dr De Wilde yang saat itu jadi Asisten Residen Priangan (Balai Kajian Jarahnitra, 1998). Bangunan tersebut sebelumnya merupakan gudang tempat menyimpan kopi. Karena bentuk atapnya datar, masyarakat menjuluki gedung tersebut gedong papak. Papak artinya datar. Akan tetapi, jika ditilik dari usianya, umur bangunan pendopo Kabupatan Bandung jauh lebih tua. Bangunan yang merupakan tempat tinggal bupati-bupati Bandung dan kini dijadikan tempat kediaman resmi Wali Kota Bandung itu didirikan Bupati RAA Wiranatakusumah II pada tahun 1810. Saat itu bertepatan dengan kepindahan ibu kota kabupaten dari Krapyak ke Kota Bandung.

Gedung Kantor Pos - Bandung

Gedung Kantor Pos – Bandung

MASA keemasan pembangunan fisik Kota Bandung ditandai dengan maraknya pembangunan gedung-gedung modern sejak akhir abad ke-19. Masa itu ditandai dengan dipindahkannya ibu kota Priangan dari Cianjur ke Bandung pada tahun 1864. Namun, dampak positif kemajuan sosial-ekonomi kota ini barulah memperlihatkan perkembangan yang luar biasa sejak direncanakan sebagai ibu kota Hindia Belanda, menggantikan Batavia yang sanitasinya dinilai kurang mendukung. Usul pemindahan ibu kota tersebut disampaikan HF Tillema (1916) dan disetujui Gubernur Jenderal Limburg Van Stirum.
Rencana boyong pusat-pusat kegiatan pemerintahan itu bukan hanya bisa disaksikan melalui berbagai instansi dan BUMN tingkat pusat yang hingga kini tetap bertahan di Bandung. Namun, bersamaan dengan rencana tersebut dibangun pula gedung-gedungnya, baik untuk perkantoran maupun tempat tinggal. Dari segi arsitektur, era ini ditandai dengan ditinggalkannya langgam arsitektur Indische Empire Stijl sebagai bentuk bangunan yang paling hebat pada masa sebelumnya. Salah satu bangunan dengan langgam gaya arsitektur tersebut bisa disaksikan lewat Gedung Pakuan yang kini dijadikan tempat kediaman resmi Gubernur Jawa Barat (Jabar) di Jalan Oto Iskandar Dinata dan Markas Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Bandung di Jalan Merdeka. Selain pernah dijadikan tempat kediaman Residen Priangan dan Gubernur Jabar, Gedung Pakuan pernah menjadi tempat kediaman resmi Wali Negara Pasundan tatkala Provinsi Jawa Barat menjadi negara Pasundan. Nama Gedung Pakuan diusulkan Dalem Istri RAA Wiranatakusumah V.
Sebagai sebuah daerah yang mulai berkembang jadi kota, Kota Bandung mengalami penataan yang lebih komprehensif sejak tahun 1920-an. Ditandai dengan pembangunan gedung-gedung yang dilakukan bersamaan dengan rencana pemindahan ibu kota telah mengundang perhatian para perancang kota dan bangunan. Salah seorang di antaranya perancang terkemuka, Ir Thomas Karsten, yang merancang Bandung sehingga gagasannya kemudian dikenal dengan “Plan Karsten”. Dalam mengantisipasi perkembangan kota ia mengusulkan gagasan perluasan wilayah kota untuk 25 tahun ke depan dari semula 2.835 ha (1930) menjadi 12.758 ha yang diperuntukkan 750.000 penduduknya. Gagasan ini diperlukan untuk tetap mempertahankan Bandung sebagai Kota Taman yang membutuhkann ruang terbuka yang cukup luas. SELAIN dikenal sebagai Kota Taman yang kemudian melahirkan berbagai sanjungan karena kecantikannya, di bidang arsitektur, Kota Bandung mewariskan kekayaan berbagai langgam arsitektur. Lewat bangunan-bangunan tua Gedung Sate yang hingga kini tetap menjadi landmark Kota Bandung, kampus Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berusaha memadukan gaya arsitektur modern dan tradisional, kota ini masih menyimpan kekayaan gaya arsitektur art deco.
Seni kebangkitan art deco di Kota Bandung mencapai puncaknya pada tahun 1920-an. Salah satu di antaranya adalah Gedung Bumi Siliwangi yang kini dijadikan Kantor Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Gedung yang hampir menyerupai kapal laut itu merupakan karya perancang Prof Wolf P Schoemaker. Bangunan ini pada awalnya merupakan vila milik DW Barrety yang dipersembahkan untuk istrinya. Tahun 1964, gedung tersebut dibeli pemerintah dan kemudian digunakan untuk kegiatan penyelenggaraan pendidikan Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG), cikal bakal Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung.
Langgam gaya arsitektur art deco yang tak kurang jumlahnya bisa dijumpai di sepanjang Jalan Braga, salah satu jalan paling bergengsi di Kota Bandung, di samping langgam gaya arsitektur lainnya. Maklum, pada saat itu di Bandung terdapat lebih dari 70 perancang bangunan. Bahkan, tak kurang dari Ir Soekarno, Presiden RI pertama, sempat memberi warna dan kekayaan arsitektur bangunan di kota ini. Bangunannya dicirikan dengan atap bertingkat dua dan bagian atasnya terdapat semacam gada. Sayang, sebagian bangunan-bangunan yang bisa menceritakan tentang sejarah kota, kebudayaan dan seni arsitektur tersebut mulai banyak diruntuhkan. Beberapa di antaranya memang ada yang berhasil diselamatkan berkat usaha gigih yang dilakukan para pengurus Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Heritage). Tetapi, sebagian lainnya sudah tidak jelas lagi karena sudah rata dengan tanah. Dengan kekuasaan rezim ekonomi, di atasnya sudah berdiri bangunan baru. Jadi, banyak yang mengkhawatirkan Bandung akan kehilangan salah satu identitas dan sekaligus kekayaan budayanya.