Prisia Nasution berpose di karpet merah

Festival Film Bandung

Prisia Nasution berpose di karpet merah

Prisia Nasution berpose di karpet merah

Apabila kita perhatikan, begitu banyak hal-hal unik yang dapat kita temukan di Kota Bandung, entah dari banyaknya komunitas unik, wisata kuliner yang inovatif, dan band-band berkualitas yang berasal dari Kota Bandung, maka tidak bisa dibantah lagi bahwa Kota Bandung memang merupakan gudangnya orang-orang kreatif yang penuh dengan potensi. Bukan hanya itu saja, bahkan di Kota Bandung ini terdapat satu festival yang tersohor yakni Festival Film Bandung.

Festival Film Bandung yang dibentuk oleh orang-orang yang sangat menyenangi film dan memiliki berbagai macam latar belakang seperti Prof. Sutardjo, Prof. Sudjoko, budayawan seperti Jakob Sumardjo, Duduh Durahman, Eddy D, Iskandar, wartawan seperti US Tiarsa, Arief Gustaman, MH Giyarno, dan Ir. Chand Parwez Servia yang merupakan pemimpin dari perusahaan film PT. Kharisma Jabar Film dan rumah produksi PT. Starvision. Mereka pada awalnya ingin langsung membentuk Festival Film Bandung pada tahun 1987, namun, pada saat itu masih jaman Orde Baru dimana Menteri Penerangan melarang mencantumkan nama “Festival” sehingga namanya terpaksa diganti menjadi Forum Film Bandung. Festival Film Bandung pertama kali digelar pada bulan April tahun 1988 di Rumah Makan Babakan Siliwangi. Pada awalnya, acara Festival Film Bandung ini hanya sekadar konferensi pers, karena Forum Film Bandung ini hanya ingin memberikan pilihan film yang layak ditonton oleh masyarakat dan bukannya menghakimi apakah film tersebut patut ditonton atau tidak. Uniknya, dengan tujuan tersebut Festival Film Bandung ini tidak memberikan predikat “terbaik” melainkan “terpuji”.

Festival Film Bandung ini diawali di kantor PT. Kharisma Jabar Film di Jalan Jenderal Sudirman No. 554 Kota Bandung dimana para pendiri Festival Film Bandung ini sering berkumpul bersama. Sampai pada akhirnya mereka setuju untuk mengadakan acara nonton film bersama setiap hari Jumat di tempat ini, tepatnya di preview room. Setelah mereka selesai menonton film, mereka akan berdiskusi tentang film tersebut lalu mengumumkannya kepada media. Pada awalnya, film yang diamati hanyalah film yang beredar di bioskop Kota Bandung. Yang diamati dari film-film tersebut adalah jalan cerita, aktor / aktris, sutradara, penulis skenario, penata musik, penata kamera, dan yang lainnya.

Hingga saat ini usia Festival Film Bandung sudah mencapai 25 tahun. Rahasia di balik kejayaannya adalah konsistensi. Festival Film Bandung ini selalu bersifat independen dan netral, tidak terpengaruh oleh kepentingan pihak manapun termasuk kalangan produser sehingga hasil pengamatan film Festival Film Bandung ini selalu bisa menjadi acuan yang terpercaya. Berkat kecintaan atas dunia perfilman, regu pengurus dan regu pengamat dari Forum Film Bandung ini tetap memberitahukan kepada masyarakat luas atas penilaian film yang diamati, meskipun pada tahun 1992 industri perfilman Indonesia sempat mengalami krisis yang parah, dimana hampir semua film Indonesia mengusung tema tentang seks dan tidak ada film Indonesia yang berkualitas. Krisis ini berlangsung hingga tahun 2000. Ketika industri perfilman Indonesia mengalami krisis, Festival Film Bandung tidak kehabisan akal, mereka tetap mengamati film-film yang ada, mulai dari film luar negeri hingga sinetron yang ada di Indonesia.

Hebatnya, Festival Film Bandung yang telah berumur 25 tahun ini, tak pernah absen sekalipun dalam mengadakan acara tahunan Festival Film Bandung. Tentu saja hal ini patut dibanggakan, terutama oleh warga Kota Bandung sendiri dan umumnya tentu saja untuk warga Indonesia tercinta. Karena di tengah-tengah hiruk pikuk industri perfilman yang makin mementingkan keuntungan pihak tertentu, masih ada lembaga yang mementingkan kualitas dan pesan yang diberikan oleh film yang memberikan kesan yang positif bagi masyarakat. Jayalah selalu Festival Film Bandung!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *