Masjid Raya Bandung

Wisata Rohani Di Masjid Raya Bandung

Masjid Raya Bandung

Masjid Raya Bandung

Kota Bandung termasuk kota metropolitan di Indonesia yang terkenal akan kreatifitas dan keunikan dalam seni, budaya, fashion, kuliner, dan lain-lain. Setiap tahunnya, banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang mengunjungi Kota Bandung untuk sekadar mencicipi keunikan kuliner Bandung, berbelanja fashion terkini, dan bahkan mengunjungi tempat-tempat wisata yang menarik.

Jika Anda mengunjungi Kota Bandung, jangan lewatkan untuk berjalan-jalan menikmati suasana kota di alun-alun. Di sekitar alun-alun ini, Anda akan menemukan kios-kios pedagang kaki lima yang menjual beragam kuliner, pakaian, dan cindera mata dengan harga murah. Selain itu, alun-alun dikelilingi oleh banyak bangunan yang memiliki banyak fungsi. Di alun-alun, Anda dapat mengunjungi Masjid Raya Bandung yang menjadi ikon rohani Kota Bandung dan Anda tentunya dapat menikmati wisata rohani di sana.

Masjid Raya Bndung atau yang dahulu dikenal dengan nama Masjid Agung Bandung ini pertama kali dibangun pada tahun 1810 dan mengalami 8 kali perombakan pada abad ke-19, lalu lima kali pada abad 20, dan akhirnya direnovasi terakhir pada tahun 2001, dan diresmikan pada tahun 2003 oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, H.R Nuriana. Masjid ini kini memiliki dua menara kembar setinggi 81 meter yang terletak di sisi kanan dan kiri masjid, dan Anda dapat menikmati pemandangan dari atas menara kembar ini di hari Sabtu dan Minggu.

Dahulunya, Masjid Raya Bandung ini memiliki arsitektur bergaya Sunda dan desain arsitektur yang sekarang didesain oleh 4 perancang yang berasal dari Bandung, yaitu Ir. H. Keulman, Ir. H. Arie Atmadibrata, Ir. H. Nu’man, dan Prof. Dr. Slamet Wirasonjaya. Dahulu kala, masjid ini dibangun dari meterial yang sederhana, seperti kayu, anyaman bambu, rumbia, dan ada juga kolam besar sederhana untuk mengambil wudhu. Air di kolam ini juga berfungsi sebagai sumber air untuk memadamkan kebakaran yang terjadi di sekitar alun-alun Bandung pada tahun 1825. Setahun setelah kebakaran, pada tahun 1826, masjid ini mengalami perombakan dan mengganti dinding beserta atap dari bambu menjadi dari kayu. Dan pada tahun 1850, atap mesjid diganti menjadi genteng dan temboknya dibuat dari batu bata. Pada tahun 1955 saat konferensi Asia Afrika berlangsung di Bandung, dilakukanlah perombakan besar-besaran, dan atap masjid yang tadinya berbentuk seperti joglo diubah menjadi kubah bergaya Timur Tengah. Lalu pada perombakan terakhir di tahun 2001, ditambahkanlah dua menara kembar setinggi 81 meter. Tadinya, tinggi menara ini akan dibuat sekitar 99 meter, tapi setelah ditinjau ulang akhirnya menjadi 81 meter  saja.

Ketika mengunjungi bagian dalam masjid ini, Anda akan melihat bagian dalam masjid ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu ruang bagian depan yang cukup luas dan ruang sholat utama. Di ruang dalam bagian masjid ini digunakan untuk pengajian, pernikahan, dan juga tempat beristirahat para jama’ah yang mengunjungi masjid. Ruangan ini juga dapat digunakan untuk sholat bagi yang tidak ingin sholat di ruang sholat utama yang berada di tuang terpisah. Di antara ruang sholat utama dan ruang depan, terdapat jembatan yang menghubungkan dua ruangan ini dan dibawahnya terdapat tempat wudhu. Ruang sholat utama juga memiliki 2 tingkat dan tempat yang luas.

Ketika bulan Ramadhan, kawasan sekitar Masjid Raya Bandung dan alun-alun selalu ramai oleh pengunjung yang ngabuburit sambil menunggu takjil berbuka puasa. Selain itu, Anda dapat mencoba naik ke atas menara kembar Masjid Raya Bandung dan melihat pemandangan Kota Bandung yang indah dan asri. Jika Anda berniat untuk naik ke atas menara kembar, Anda akan dikenai biaya tiket seharga Rp. 2.000,-. Dengan berkunjung ke Masjid Raya Bandung ini, Anda dapat merasakan suasana Kota Bandung yang sejuk dan nyaman dengan suasana Islami sambil menikmati mahakarya arsitektur bernuansa Islam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *