Saung Angklung Udjo

Saung Angklung Udjo, Warisan Sunda Yang Melegenda

Saung Angklung Udjo

Saung Angklung Udjo

Bandung memang salah satu wilayah di Indonesia yang memang sering menjadi tempat untuk menghabiskan waktu bewisata ataupun berbelanja. Dengan banyaknya ragam toko, mall, dan restoran, Bandung sepertinya tidak akan pernah kehabisan pengunjung, baik dari dalam maupun luar negri. Namun daya tarik Bandung sebagai kota pariwisata bukan hanya karena daya tarik tempat perbelanjaannya saja, tetapi juga karena budaya Bandung, atau lebih tepatnya lagi budaya Sunda, masih dilestarikan bahkan menjadi salah satu objek wisata yang paling populer. Salah satu warisan budaya yang sampai saat ini masih dilestarikan adalah angklung. Angklung adalah alat musik yang dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan sehingga benturan badan pipa bambu menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Angklung terdaftar sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia dari UNESCO sejak November 2010. Sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, salah satu tempat terbaik dimana anda dapat melihat dan menyaksikan keindahan angklung ini berada di Bandung, tepatnya di Saung Angklung Udjo.

Saung Angklung Udjo (SAU) adalah tempat pelestarian sekaligus workshop dari kebudayaan sunda, yang merupakan pusat kerajinan tangan dan instrumen musik dari bambu. Selain itu, Saung Angklung Udjo juga memberikan pertunjukan budaya sunda disertai dengan pertunjukan musik angklung yang menawan. Saung Angklung Udjo yang berada di Jalan Padasuka 118 Bandung ini telah lama didirikan padabulan Januari tahun 1967 oleh Udjo Ngalagena dan istrinya Uum Sumiati, dengan maksud untuk melestarikan dan memelihara seni dan kebudayaan tradisional Sunda.

Saung Angklung Udjo

Saung Angklung Udjo

Di tempat ini diadakan pertunjukkan dari Senin hingga Minggu dari mulai pukul 15.30-17.30 WIB. Pertunjukan dimulai dengan gamelan Sunda yang kemudian dibuka oleh tuan rumah dengan memperkenalkan demonstrasi wayang golek. Penceriteraan wayang golek umumnya berlangsung lebih dari 7 jam dan kadang-kadang memakan waktu satu atau bahkan dua hari untuk menyelesaikan sebuah cerita, tapi di sini di Saung Udjo, demonstrasi dirangkum secara singkat namun tetap menghibur. Setelah pertunjukan wayang golek adalah helaran, sebuah drama ritual menggambarkan situasi ketika teman-teman dari anak laki-laki yang disunat membawanya untuk bermain bersama dalam sebuah prosesi untuk memberinya kebahagiaan. Setelah itu, orkestra arumba (bentuk lain dari band angklung) disajikan. Tari topeng merupakan salah satu bagian dari medley pertunjukan musik tersebut, yang biasanya dimainkan oleh seorang anak tunggal. Pada akhir pertunjukan, para penonton juga bisa merasakan bagaimana mudahnya untuk bermain angklung bersama-sama dengan anak-anak di Saung Angklung Udjo dalam  lagu-lagu seperti Rain & Tears, Sound of Music, dan Song of Joy.

Meskipun Saung Angklung Udjo sekarang telah menjadi pusat budaya tradisional Sunda yang terkenal, tempat ini masih belum lupa akan tujuan utamanya. Tempat ini terkenal bukan hanya karena angklung dan musiknya, tetapi juga anak-anak yang melakukan pertunjukan tersebut dengan begitu banyak cinta dan sukacita. Anak-anak kecil yang melakukan pagelaran musik di Saung Angklung Udjo ini sebenarnya anak-anak yang tinggal di daerah sekitar, yang tiap harinya berkunjung ke tempat ini untuk bermain dan belajar musik angklung. Anak-anak ini juga tidak perlu membayar, bahkan tiap selesai pertunjukkan mereka diberikan upah sesuai hasil kerja keras mereka. Inilah bukti nyata pengabdian seorang pencinta budaya angklung dalam melestarikan dan menyebarkan rasa cintanya kepada orang-orang di sekitarnya yang ada di Saung Angklung Udjo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *